Rabu, 23 Januari 2013

Kelas Malas

Tepat lebih dari sehari
Ini harus di selesaikan pula
Bagaimana nilai yang dicari
Dari nafas yang dihela

Sampai dengan kelas ke-tujuh
Kuliah ini belum selesai,
Telah pula dibuat mengeluh.
bukan hasil yang tidak sesuai

Ini merupakan gerak lalu
Aku berubah dan melawan
Meski kini, meski lalu
Tak pernah sama, Kawan.

                 18 Januari 2013

Fajar

Ini sepertiga akhir pagi
Kau pandang tiap kepala sebentar memilin
Perlahan memilih di atas jari suci
Bangunkan jiwa yang sesaat mati, dan...

Dia bariskan satu demi satu
Sujud hamba-Nya malu, mendekap bawah, rendah
Tolong berikan hamba satu
Atau seribu semangat menyala

Seraya menyeruak kalbu
Ku tunaikan titah-Mu, hikmat
Biar rizki-Mu erat-melekati waktu
Sampai langkahmu Fajar menembus jagat...

Termangu kembali
Menunggu, mananti
Surya yang semakin tinggi
Seraya hidup seratus kali
10 Sept 2012

Masa Lalu


Jejak sepanjang jalan
Hiasi datar pasir hilang memudar
Tebal dan rata hanya riasan
Wajahku ini habis di tawar

Ulangi masa demi berilmu
Pandukan kembali tak sampai waktu

Jejak yang lalu telah pergi
Tiada mengenal siapa mati
Angin petang jauh selaras
Apit waktuku kian terbatas
                                    Sept 2012

Sekedar Perayaan


Hibahmu tak nyata bagiNya. Tuk Janus.
Puja-puja mereka kini hilang, terganti pujur
Ramai sudah di pesisir. Pupus
Menutup lipatan, punggung pudar

Benar, kita pemuja Tuhan
Tapi di belakang katamu tidaklah kekal

Mereka menunggu waktu menutup tahun.

Lau tiba datangnya malam khayal
Pagi esok kembali lagi kecelaan

Dimana persembahan syukur?
Sekali lagi! dengan puja pujur
Lenyap khudu. Hanya lalu lisan
Semarak sekedar Labium unggunan

                                   31 Desember 2012

Auntum Crocus


Tidak dirasa lakumu
Menjadi wangi meracuni
Begitu saja, tak perih dirasa, disentuh
Hingga hilang denyut darah mati

Begitulah engkau rupanya
Memang, begitulah engkau hidup

Sudah tak tersentak aku dengan wangimu
Menggoda warna keunguan
Gugur musim tertutup
Indah yang menyelimuti bahaya
                                      : Andra Wijahya
                                      Sept/ 2012

Rabu, 02 Januari 2013

Bumi Kini


Terhampar tanah luas hijau sejuk, telah ada dengan Puji

Beda dengan kini, padang ramah itu
Tempat yang sama itupun di ujung jari
Hanya yang di rasa basah peluh, debu...

Balutan Cemara, acasia, dan pinus
Sejauh mata kini berdiri hanya kaki-kaki beton.
Kaki-kaki kecil bertuahpun menyingkir habis perlahan
Tak guna perlawanan “pencintamu”, dus

Kakimu tak lagi disandarkan
Walau ilalang, rumput seakan bertahan
Malu dirasa sudah menghilang
Tersisa tubuh senggenggam tangan



Wahai alam, Bertahanlah!